Salasilah (Geneologi Umum) Kitab Fiqh Mazhab Syafi’i. (متن الغاية والتقريب)

Kepentingan hasil dari karya-karya Kitab Fiqh yang mempunyai kesenambungan mahupun rangkaian jalur salasilah kitab-kitab yang merupakan salah satu perkembangan Fiqh. Banyak karya besar Fiqh Syafi’iyyah yang popular dan Mashyur masih tetap utuh diajar dan dipelajari dari kalangan ahli madrasah, pondok ataupun pasentren di Asia Tenggara. Hal demikian, ia dilakukan adalah penulisan yang berbentuk komentar (al-Syarah) (iaitu keterangan, huraian, penjelasan, atau ulasan) terhadap matan (al-Matan) (naskah asli, teks), atau cacatan atas dasar komentar (huraian yang mengandungi penjelasan, kritikan, atau pendapat mengenai sesuatu perkara), yang dinamakan ia (Hasyiyah). Atau dilakukan sebaliknya, yakni disusun ringkasan (al-Mukhtashar) dari suatu karya yang lain dari tradisi ulama’ dalam perkembangan fiqh berbentuk lingkungan mazhab. Demikian terdapat beberapa “Salasilah” Kitab Fiqh Syafi’iyyah, dan hubungan antara anggota “Salasilah” ini dapat digambarkan penulis dalam sebuah gambar rajah yang akan disusulkan kemudian. Tiga yang menonjol, secara berturut-turut “berasal” dari Muharrar karangan Imam Rafi’i, Taqrib atau (Mukhtashar) oleh Imam Abu Syuja’ al-Asfahani, dan Qurrah al-‘Ain karangan Imam Zainuddin al-Malibari.

       Penjelasan yang pertama akan diulaskan oleh penulis diantara salasilah-salasilah tersebut adalah dari kelompok kitab yang memiliki hasil kecenderungan yang besar dari kalangan penuntut ilmu didalam mempelajari Fiqh Mazhab Syafi’i. Melalui hasil penelitian, salasilah yang dimaksudkan penulis adalah jalur salasilah Matan Al-Ghayah wa al-Taqrib (متن الغاية والتقريب), yang juga terkenal dengan Mukhtashar, oleh Imam Abu Syuja’ al-Asfahani (Ahmad bin Husein bin Ahmad ) . Diantara syarah Taqrib adalah Fath al-Qarib (oleh Syeikh Ibn Qasim Al-Ghazzi) , Kifayat al-Akhyar, (oleh Taqiyad-Din al-Dimasyqi), dan syarah kitab yang ketiga daripada Taqrib adalah al-Iqna’ karangan (Syeikh Khathib Syarbini). Salasilah yang dipaparkan penulis bukanlah hanya itu ketetapan salasilah kitab Fiqh Mazhab Syafi’i daripada jalur salasilah Matan Al-Ghayah wa al-Taqrib, malah kemungkinan ada pekembangan daripada salasilah tersebut yang belum diketahui oleh penulis. Demikian itu, penulis hanya memaparkan sebagai gambaran salasilah kitab sahaja daripada salasilah Matan Al-Ghayah wa al-Taqrib bukan merangkumi keseluruhan kesempurnaan salasilahnya.

       Seterusnya penulis cuba ingin menukilkan serba sedikit perkongsian bersama mengenai perbahasan kitab Fath al-Qarib menurut Syeikh Ibn Qasim al-Ghazzi  daripada muqadimah kitab syarahnya, yang menerangkan secara ringkas mengenai tujuan disyarahkan daripada kitab Taqrib adalah sebagai berikut :

وبعد : هذا كتاب في غاية الإختصار والتهذيب، وضعته على الكتاب المسمى بالتقريب لينتفع به المحتاج من المبتدين لفروع الشريعة والدين، وليكون وسيلة لنجاتي يوم الدين، ونفعًا لعبادة المسلمين، إنه سميع دعاء عبادة وقريب مجيب. ومن قصده لا يخيب. وإذا سألك عبادي عني فإني قريب.

Dan selepas itu, ini adalah kitab pada sehabis-habis ringkas dan murni, yang aku letakkan ia keatas kitab yang dinamakan dengan “Taqriib” supaya mengambil manfaat dengannya orang-orang yang berhajat daripada orang yang baru mula belajar, kepada cabang-cabang syariat dan agama dan supaya jadilah ia wasilah bagi kejayaanku pada hari Agama, dan untuk manfaat hamba-hambaNya yang Islam. Sungguhnya Dia maha mendengar doa hambaNya dan amat hampir lagi amat memperkenan. Barangsiapa yang menuju kepadaNya tidak kehampaan. Dan apabila bertanya kepada kamu oleh hamba-hambaku maka sunggunya Aku ini amat hampir”.

       Maka pengarang kitab Fath al-Qarib melanjutkan muqadimahnya daripada perbezaan nama naskah kitab seperti berikut:
وإعلم أنه يوجب في بعد نسخ هذا الكتاب في غير خطبته نسميته تارة بالتقريب ، وتارة بغاية الإختصار. فلذلك سميته باسمين. أحدهما : فتح القريب المجيب في شرح ألفاظ التقريب. والثاني : القول المختار في شرح غاية الإختصار.

Ketahuilah, bahawa didapati pada sebahagaian naskah kitab ini pada selain khutbahnya penamaannya sekali dengan “التقريب” sekali yang lain dengan “غاية الإختصار”. Maka kerana demikian itu aku namakan ia dengan dua nama, satu daripadanya “فتح القريب المجيب في شرح ألفاظ التقريب ”. (pembukaan yang mudah pada mensyarahkan lafaz-lafaz Taqrib). Keduanya “القول المختار في شرح غاية الإختصار ” (Pendapat yang terpilih pada mensyarahkan غاية الإختصار.)

wallahu'ala,
moga bermanfaat & diberkati
alfaqir ilallah
Muhammad Yasir
http://sabilurrosyad.blogspot.com/2009/04/salasilah-geneologi-kitab-fiqh-mazhab.html

http://www.facebook.com/groups/KAUMSARUNGAN/doc/169469369744770/

اللامذهبية أخطر بدعة تهدد الشريعة الإسلامية

Asslamu'alaikum wrwb
اللامذهبية أخطر بدعة تهدد الشريعة الإسلامية

Adalah sebuah buku yang secara tegas menelanjangi gerakan pahan anti mazhab. Bukan sekedar menyalahi syariah, bahkan paham anti mazhab ini termasuk dalam kategori sebuah bid`ah yang paling berbahaya dan bekerja dengan sangat sistematis merusak syariah Islam. Sayang sekali hari ini banyak sekali korban berjatuhan di tengah generasi muda Islam. Sebuah penyesatan yang akan menghancurkan kekuatan Islam dari dalam dan meracuni pemikiran kalangan awam dengan label yang menipu.

Dr. Muhammad Said Ramadhan Al-Buthi, ulama besar Suriah dan aktifis senior pergerakan Islam di negeri itu, membeberkan betapa berbahayanya paham anti mazhab ini dalam bukunya setebal 200-an halaman.

Silakan download buku tersebut disini http://santrimudimesra.blogspot.com/2010/11/blog-post.html#more atau

disini http://www.ziddu.com/download/12599988

http://www.facebook.com/groups/KAUMSARUNGAN/doc/169459433079097/

5 Ilmuwan Yang Menjadi Muslim Setelah Melakukan Riset Ilmiah

"Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, atau duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi". Demikian bunyi surah Ali Imron ayat 190-191.
 
Ayat di atas menjelaskan tentang kebesaran Allah; bahwa keberadaan dan kebesaran-Nya dapat dibuktikan melalui adanya alam semesta. Orang-orang yang berakal (ulul Albab/cendekiawan) yang disebutkan dalam ayat itu dapat membuktikan keberadaan Allah melalui penelitian terhadap ciptaan-Nya. Sehingga tidak mengherankan, tidak sedikit manusia yang pada mulanya berada dalam kejahiliyahan, akhirnya memeluk Islam dan menjadi muslim yang teguh setelah menemukan kebenaran pernyataan Alquran tentang tanda-tanda kebesaran Allah di alam semesta.

Dalam Alquran sendiri, meski baru diturunkan 14 abad yang lalu, sudah banyak mengungkap fakta-fakta alam semesta secara ilmiah. Satu persatu fakta-fakta itu terbuktikan kebenarannya sehingga melahirkan beragam ilmu pengetahuan.

Pada abad modern ini, pembuktian kebenaran Alquran banyak dilakukan oleh ilmuwan non-muslim. Bahkan tidak sedikit di antara mereka akhirnya yang dengan keikhlasan mengucap dua kalimat syahadat.

Ada banyak ilmuwan dunia yang akhirnya mengakui kebenaran Alquran setelah melakukan penelitian di bidangnya.

Berikut 5 Ilmuwan Yang Menjadi Muslim Setelah Melakukan Riset Ilmiah :

1. Maurice Bucaille, masuk Islam karena jasad Fir'aun

Prof Dr Maurice Bucaille adalah adalah ahli bedah kenamaan Prancis dan pernah mengepalai klinik bedah di Universitas Paris. Ia dilahirkan di Pont-L’Eveque, Prancis, pada 19 Juli 1920. Kisah di balik keputusannya masuk Islam diawali pada tahun 1975.

Pada saat itu, pemerintah Prancis menawari bantuan kepada pemerintah Mesir untuk meneliti, mempelajari, dan menganalisis mumi Firaun. Bucaille lah yang menjadi pemimpin ahli bedah sekaligus penanggung jawab utama dalam penelitian.

Ternyata, hasil akhir yang ia peroleh sangat mengejutkan. Sisa-sisa garam yang melekat pada tubuh sang mumi adalah bukti terbesar bahwa dia telah mati karena tenggelam. Jasadnya segera dikeluarkan dari laut dan kemudian dibalsem untuk segera dijadikan mumi agar awet. Namun penemuan yang dilakukan Bucaille menyisakan pertanyaan: Bagaimana jasad tersebut bisa terjaga dan lebih baik dari jasad-jasad yang lain (tengkorak bala tentara Firaun), padahal telah dikeluarkan dari laut?

Bucaille lantas menyiapkan laporan akhir tentang sesuatu yang diyakininya sebagai penemuan baru, yaitu tentang penyelamatan mayat Firaun dari laut dan pengawetannya. Laporan akhirnya ini dia terbitkan dengan judul 'Mumi Firaun; Sebuah Penelitian Medis Modern', dengan judul aslinya, 'Les Momies des Pharaons et la Midecine'.

Saat menyiapkan laporan akhir, salah seorang rekannya membisikkan sesuatu di telinga Bucaille seraya berkata: "Jangan tergesa-gesa karena sesungguhnya kaum Muslimin telah berbicara tentang tenggelamnya mumi ini".

Dia mulai berpikir dan bertanya-tanya. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi? Bahkan, mumi tersebut baru ditemukan sekitar tahun 1898 M, sementara Alquran telah ada ribuan tahun sebelumnya.

Setelah perbaikan terhadap mayat Firaun dan pemumiannya, Prancis mengembalikan mumi tersebut ke Mesir. Namun, ia masih bertanya-tanya tentang kabar bahwa kaum Muslimin telah saling menceritakan tentang penyelamatan mayat tersebut.

Dari sini kemudian terjadilah perbincangan untuk pertama kalinya dengan peneliti dan ilmuwan Muslim. Ia bertanya tentang kehidupan Musa as, perbuatan yang dilakukan Firaun, dan pengejarannya terhadap Musa hingga dia tenggelam dan bagaimana jasad Firaun diselamatkan dari laut.

Maka, berdirilah salah satu di antara ilmuwan Muslim tersebut seraya membuka Alquran dan membacakan untuk Bucaille firman Allah SWT yang artinya: "Maka pada hari ini Kami selamatkan badanmu supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan Kami." (QS Yunus: 92).

Ayat ini sangat menyentuh hati Bucaille. Ia mengatakan bahwa ayat Alquran tersebut masuk akal dan mendorong sains untuk maju. Hatinya bergetar, dan getaran itu membuatnya berdiri di hadapan orang-orang yang hadir seraya menyeru dengan lantang: "Sungguh aku masuk Islam dan aku beriman dengan Alquran ini".

2. Jacques Yves Costeau, di lautan terdalam menemukan Islam

Mr Jacques Yves Costeau adalah seorang ahli Oceanografer dan ahli selam terkemuka dari Perancis yang lahir pada 11 Juni 1910. Sepanjang hidupnya ia menghabiskan waktu dengan menyelam ke berbagai dasar samudera di seantero dunia dan membuat film dokumenter tentang keindahan alam dasar laut untuk ditonton oleh seluruh dunia melalui stasiun tv Discovery Channel.

Pada suatu hari ketika sedang melakukan eksplorasi di bawah laut, tiba-tiba Costeau menemui beberapa kumpulan mata air tawar-segar yang sangat sedap rasanya karena tidak bercampur atau tidak melebur dengan air laut yang asin di sekelilingnya. Sehingga seolah-olah ada dinding atau membran yang membatasi keduanya.

Fenomena ganjil itu mendorongnya untuk mencari tahu penyebab terpisahnya air tawar dari air asin di tengah-tengah lautan.

Sampai pada suatu hari ia bertemu dengan seorang profesor muslim dan menceritakan fenomena ganjil itu kepadanya. Profesor tersebut lalu teringat ayat Alquran tentang bertemunya dua lautan (surat Ar-Rahman ayat 19-20) yang sering diidentikkan dengan Terusan Suez.

Ayat itu berbunyi: "Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui masing-masing".

Kemudian dibacakan surat Al-Furqan ayat 53 : "Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain masin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi."
 
Terpesonalah Mr Costeau mendengar ayat-ayat Alquran itu, melebihi kekagumannya melihat keajaiban pemandangan yang pernah dilihatnya di lautan yang dalam. Costeau pun berkata bahwa Alquran memang sesungguhnya kitab suci yang berisi firman Allah, yang seluruh kandungannya mutlak benar. Tak lama, Mr Costeau memeluk Islam.

3. Demitri Bolykov, meyakini matahari akan terbit dari Barat

Sebagai seorang ahli fisika asal Ukraina, Demitri Bolykov mengatakan bahwa pintu masuk ke Islam baginya adalah fisika. Demitri tergabung dalam sebuah penelitian ilmiah yang dipimpin oleh Prof Nicolai Kosinikov, yang juga merupakan pakar fisika.

Teori yang dikemukan oleh Prof Kosinov merupakan teori yang paling baru dan paling berani dalam menafsirkan fenomena perputaran bumi pada porosnya. Kelompok peneliti ini merancang sebuah sampel berupa bola yang diisi penuh dengan papan tipis dari logam yang dilelehkan, ditempatkan pada badan bermagnit yang terbentuk dari elektroda yang saling berlawanan arus.

Ketika arus listrik berjalan pada dua elektroda tersebut maka menimbulkan gaya magnet dan bola yang dipenuhi papan tipis dari logam tersebut mulai berputar pada porosnya fenomena ini dinamakan "Gerak Integral Elektro Magno-Dinamika". Gerak ini pada substansinya menjadi aktivitas perputaran bumi pada porosnya.

Pada tingkat realita di alam ini, daya matahari merupakan "kekuatan penggerak" yang bisa melahirkan area magnet yang bisa mendorong bumi untuk berputar pada porosnya. Kemudian gerak perputaran bumi ini dalam hal cepat atau lambatnya seiring dengan daya intensitas daya matahari.

Atas dasar ini pula posisi dan arah kutub utara bergantung. Telah diadakan penelitian bahwa kutub magnet bumi hingga tahun 1970 bergerak dengan kecepatan tidak lebih dari 10 km dalam setahun, akan tetapi pada tahun-tahun terakhir ini kecepatan tersebut bertambah hingga 40 km dalam setahun.

Bahkan pada tahun 2001 kutub magnet bumi bergeser dari tempatnya hingga mencapai jarak 200 km dalam sekali gerak. Ini berarti bumi dengan pengaruh daya magnet tersebut mengakibatkan dua kutub magnet bergantian tempat. Artinya bahwa "gerak" perputaran bumi akan mengarah pada arah yang berlawanan. Ketika itu matahari akan terbit (keluar) dari Barat.

Ilmu pengetahuan dan informasi seperti ini tidak didapati Demitri dalam buku-buku atau didengar dari manapun, akan tetapi ia memperoleh kesimpulan tersebut dari hasil riset dan percobaan serta penelitian.

Ketika ia menelaah kitab-kitab samawi lintas agama, ia tidak mendapatkan satupun petunjuk kepada informasi tersebut selain dari Islam. Ia mendapati informasi tersebut dari sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah saw bersabda, "Siapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari Barat, maka Allah akan menerima taubatnya."

4. Dr.Fidelma O’Leary, menemukan rahasia sujud dalam salat

Dr Fidelma, ahli neurologi asal Amerika Serikat mendapat hidayah saat melakukan kajian terhadap saraf otak manusia. Ketika melakukan penelitian, ia menemukan beberapa urat saraf di dalam otak manusia yang tidak dimasuki darah. Padahal setiap inci otak manusia memerlukan suplai darah yang cukup agar dapat berfungsi secara normal.

Penasaran dengan penemuannya, ia mencoba mengkaji lebih serius. Setelah memakan waktu lama, penelitiannya pun tidak sia-sia. Akhirnya dia menemukan bahwa ternyata darah tidak akan memasuki urat saraf di dalam otak manusia secara sempurna kecuali ketika seseorang tersebut melakukan sujud dalam salat. Artinya, kalau manusia tidak menunaikan ibadah shalat, otak tidak dapat menerima darah yang secukupnya untuk berfungsi secara normal.

Rupanya memang urat saraf dalam otak tersebut hanya memerlukan darah untuk beberapa saat tertentu saja. Ini artinya darah akan memasuki bagian urat otak dengan mengikuti waktu salat.

Dengan kata lain, sujud yang tumakninah dan kontinyu dapat memacu kecerdasan. Karena posisi sujud akan mengalirkan darah yang kaya oksigen secara maksimal dari jantung ke otak. Aliran ini berpengaruh pada daya pikir seseorang.

Setelah penelitian mengejutkan tersebut, Fidelma mencari tahu tentang Islam melalui buku-buku Islam dan diskusi dengan rekan-rekan muslimnya. Setelah mempelajari dan mendiskusikannya, ia malah merasa bahwa ajaran Islam sangat logis. Hatinya begitu tenang ketika mengkaji dan menyelami agama samawi ini.

5. Profesor William, menemukan tumbuhan yang bertasbih

Sebuah majalah sains terkenal, Journal of Plant Molecular Biologies, mengungkapkan hasil penelitian yang dilakukan sebuah tim ilmuwan Amerika Serikat tentang suara halus yang tidak bisa didengar oleh telinga biasa (ulstrasonik), yang keluar dari tumbuhan. Suara tersebut berhasil disimpan dan direkam menggunakan alat perekam canggih.

Dari alat perekam itu, getaran ultrasonik kemudian diubah menjadi menjadi gelombang elektrik optik yang dapat ditampilkan ke layar monitor. Dengan teknologi ini, getaran ultrasonik tersebut dapat dibaca dan dipahami, karena suara yang terekam menjadi terlihat pada layar monitor dalam bentuk rangkaian garis.

Para ilmuwan ini lalu membawa hasil penemuan mereka ke hadapan tim peneliti Inggris di mana salah seorangnya adalah peneliti muslim.

Yang mengejutkan, getaran halus ultrasonik yang tertransfer dari alat perekam menggambarkan garis-garis yang membentuk lafadz Allah dalam layar. Para ilmuwan Inggris ini lantas terkagum-kagum dengan apa yang mereka saksikan.

Peniliti muslim ini lalu mengatakan jika temuan tersebut sesuai dengan keyakinan kaum muslimin sejak 1400 tahun yang lalu. Para ilmuwan AS dan tim peneliti Inggris yang mendengar ucapan itu lalu memintanya untuk menjelaskan lebih dalam maksud yang dikatakannya.

Sang peneliti muslim kemudian membaca ayat dalam Alquran yang berbunyi:

"Bertasbih kepada-Nya langit yang tujuh, dan bumi (juga), dan segala yang ada di dalamnya. Dan tidak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun, lagi Maha Pengampun," (QS Isra: 44).

Setelah menjelaskan tentang Islam dan ayat tersebut, sang peneliti muslim itu memberikan hadiah berupa mushaf Alquran dan terjemahanya kepada Profesor William, salah satu anggota tim peneliti Inggris.

Selang beberapa hari setelah peristwa itu, Profesor William berceramah di Universitas Carnegie Mellon. Ia mengatakan:

"Dalam hidupku, aku belum pernah menemukan fenomena semacam ini selama 30 tahun menekuni pekerjaan ini, dan tidak ada seorang ilmuwan pun dari mereka yang melakukan pengkajian yang sanggup menafsirkan apa makna dari fenomena ini. Begitu pula tidak pernah ditemukan kejadian alam yang bisa menafsirinya. Akan tetapi, satu-satunya tafsir yang bisa kita temukan adalah dalam Alquran. Hal ini tidak memberikan pilihan lain buatku selain mengucapkan Syahadatain," demikian ungkapan William.

Dikutip dari http://www.kaskus.co.id/showthread.php?t=16026736

http://www.facebook.com/groups/KAUMSARUNGAN/doc/531419993549704/

صلوات عدادية

بسم الله الرحمن الرحيم
أَللَّهُمَّ صَلِّى وَ سَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ آلِ سَيِّدِناّ مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ رَحْمَةِ اللهِ
أَللَّهُمَّ صَلِّى وَ سَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ آلِ سَيِّدِناّ مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ فَضْلِ اللهِ
أَللَّهُمَّ صَلِّى وَ سَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ آلِ سَيِّدِناّ مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ خَلْقِ اللهِ
أَللَّهُمَّ صَلِّى وَ سَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ آلِ سَيِّدِناّ مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ عِلْمِ اللهِ
أَللَّهُمَّ صَلِّى وَ سَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ آلِ سَيِّدِناّ مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ كَلِماَتِ اللهِ
أَللَّهُمَّ صَلِّى وَ سَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ آلِ سَيِّدِناّ مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ كَرَمِ اللهِ
أَللَّهُمَّ صَلِّى وَ سَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ آلِ سَيِّدِناّ مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ حُرُوْفِ كَلاَمِ اللهِ
أَللَّهُمَّ صَلِّى وَ سَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ آلِ سَيِّدِناّ مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ قَطْرِ اْلأَمْطاَرِ
أَللَّهُمَّ صَلِّى وَ سَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ آلِ سَيِّدِناّ مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ وَرَقِ اْلأَشْجاَرِ
أَللَّهُمَّ صَلِّى وَ سَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ آلِ سَيِّدِناّ مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ رَمْلِ اْلقَفَارِ
أَللَّهُمَّ صَلِّى وَ سَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ آلِ سَيِّدِناّ مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ اْلحُبُوْبِ وَالثِّماَرِ
أَللَّهُمَّ صَلِّى وَ سَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ آلِ سَيِّدِناّ مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ ماَ أَظْلَمَ عَلَيْهِ الْلَيْلُ وَ أَشْرَقَ عَلَيْهِ النَّهَارُ
أَللَّهُمَّ صَلِّى وَ سَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ آلِ سَيِّدِناّ مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ مَنْ صَلىَّ عَلَيْهِ
أَللَّهُمَّ صَلِّى وَ سَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ آلِ سَيِّدِناّ مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ مَنْ لَمْ يُصَلّىِ عَلَيْهِ
أَللَّهُمَّ صَلِّى وَ سَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ آلِ سَيِّدِناّ مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ أَنْفاَسِ الْخَلاَئِـقِ
أَللَّهُمَّ صَلِّى وَ سَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ آلِ سَيِّدِناّ مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ نُجُوْمِ السَّمَوَاتِ
أَللَّهُمَّ صَلِّى وَ سَلِّمْ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ آلِ سَيِّدِناّ مُحَمَّدٍ بِعَدَدِ كُلِّ شَيْئٍ فِى الدُّنْياَ وَ اْلآخِرَةِ وَ صَلَوَاتُ اللهِ تَعاَلَى وَ مَلاَئِكَتِهِ وَ أَنْبِياَئِهِ وَ رُسُلِهِ وَ جَمِيْعِ خَلْقِهِ عَلىَ سَيِّدِ اْلمُرْسَلِيْنَ وَ إِماَمِ الْمُتَّـقِيْنَ وَ قَائِدِ غُرِّ الْمُحَجَّلِـيْنَ وَ شَفِيْعِ الْمُذْنِـبِيْنَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ وَ أَزْوَاجِهِ وَ ذُرِّيَّـتِهِ وَ اْلأَئِمَّةِ اْلماَضِيْنَ وَ اْلمَشَائِخِ اْلمُتَقَدِّمِيْنَ وَ الشُّهَدَاءِ وَ الصَّالِحِيْنَ وَ أَهْلِ طَاعَتِكَ أَجْمَعِيْنَ مِنْ أَهْلِ السَّمَوَاتِ وَ أَهْلِ اْلأَرَضِيْنَ بِرَحْمَتِكَ ياَ أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ ياَ أَكْرَمَ اْلأَكْرَمِيْنَ.
وَ الْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ اْلعاَلَمِيْنَ.


Dibaca tiga kali setiap hari (3x1) :)
LOBAK, TELUR DAN KOPI

Adakah kita serbuk kopi? Yang mampu mengubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, menjadi sarana mengubah dirinya mencapai kualitas yang lebih tinggi lagi.

--0o0o0--

Seorang anak mengeluh pada ayahnya mengenai kehidupannya. Dia bertanya mengapa hidup ini terasa begitu sukar dan menyakitkan. Dia tidak tahu bagaimana untuk menghadapinya. Dia nyaris menyerah kalah dalam kehidupan. Setiap kali satu masalah selesai, timbul masalah baru.

Ayahnya yang bekerja sebagai tukang masak membawa anaknya itu ke dapur. Dia mengisi tiga buah panci dengan air dan mendidihkannya di atas kompor. Setelah air di dalam ketiga panci tersebut mendidih, dia memasukkan lobak putih ke dalam panci pertama, telur dalam panci kedua, dan serbuk kopi dalam panci terakhir.

Dia membiarkannya mendidih tanpa berkata-kata. Si anak tertanya-tanya dan menunggu dengan tidak sabar sambil memikirkan apa yang sedang dilakukan oleh ayahnya. Setelah 20 menit, si ayah mematikan api.

Dia menyisihkan lobak dan meletakannya dalam mangkuk, mengangkat telur dan meletakkannya dalam mangkuk yang lain, dan menuangkan kopi di mangkuk lain.

Lalu dia bertanya kepada anaknya, "Apa yang kau lihat, Nak?"

"Lobak, telur dan kopi", jawab si anak.

Ayahnya meminta anaknya memakan lobak itu. Dia melakukannya dan mengakui bahwa lobak itu nikmat. Ayahnya meminta dia mengambil telur itu dan memecahkannya. Setelah membuang kulitnya, dia dapati sebiji telur rebus yang matang. Terakhir, ayahnya meminta untuk minum kopi. Dia tersenyum ketika meminum kopi dengan keharuman aroma.

Setelah itu, si anak bertanya, "Apa arti semua ini, ayah?"

Si ayah, sambil tersenyum menerangkan bahwa ketiga bahan itu telah menghadapi kesulitan yang sama, direbus dalam air dengan api yang panas tetapi masing-masing menunjukkan reaksi yang berbeda. Lobak sebelum direbus kuat, keras dan sukar dipatahkan. Tetapi setelah direbus, lobak menjadi lembut dan mudah dimakan.

Telur mudah pecah dengan isinya yang berupa cairan. Tetapi setelah direbus, isinya menjadi keras.

Serbuk kopi pula mengalami perubahan yang unik. Setelah berada di dalam rebusan air, serbuk kopi mengubah warna dan rasa air tersebut.

"Kamu termasuk golongan yang mana? Air panas yang mendidih itu umpama kesukaran dan dugaan yang bakal kamu lalui. Ketika kesukaran dan kesulitan itu mendatangimu, bagaimana harus kau menghadapinya? Apakah kamu seperti lobak, telur atau kopi?" tanya Ayahnya.

--0o0o0--

Bagaimana dengan kita?

Apakah kita adalah lobak yang kelihatan keras, tapi dengan adanya penderitaan dan kesulitan, kita menyerah menjadi lembut dan kehilangan kekuatan.

Atau, apakah kita adalah telur yang pada awalnya memiliki hati lembut, dengan jiwa yang dinamis? Namun setelah adanya kematian, patah hati, perpisahan atau apa saja cobaan dalam kehidupan akhirnya kita menjadi menjadi keras dan kaku. Dari luar kelihatan sama, tetapi apakah kita menjadi pahit dan keras dengan jiwa dan hati yang kaku?

Atau adakah kita serbuk kopi? Yang mampu mengubah air panas, sesuatu yang menimbulkan kesakitan, menjadi sarana mengubah dirinya mencapai kualitas yang lebih tinggi lagi. Jika kita seperti serbuk kopi, ketika keadaan menjadi semakin buruk atau memuncak, kita akan menjadi semakin baik dan membuat keadaan disekitar kita juga menjadi semakin baik.

Antara lobak, telur dan kopi, engkau yang mana?

* * *

Dikutip dari :  Kumpulan Cerita & Kata Mutiara (Motivator Pembelajaran Hidup)
Fans Pagenya Kumpulan Cerita & Kata Mutiara (Motivator Pembelajaran Hidup)

Terimakasih telah membaca, silahkan di share jika cerita ini bermanfaat.

Fathul Mu'in (Bab Shalat)

باب الصلاة  هي شرعا أقوال وأفعال مخصوصة مفتتحة بالتكبير مختتمة بالتسليم وسميت بذلك لاشتمالها على الصلاة لغة وهي الدعاء  والمفروضات العينية خمس في كل يوم وليلة معلومة من الدين بالضرورة فيكفر جاحدها ولم تجتمع هذه الخمس لغير نبينا محمد صلى الله عليه وسلم وفرضت ليلة الإسراء بعد النبوة بعشر سنين وثلاثة أشهر ليلة سبع وعشرين من رجب ولم تجب صبح يوم تلك الليلة لعدم العلم بكيفيتها

BAB SHALAT
Shalat dalam definisi Syara' adalah : Segala perkataan dan perbuatan tertentu yang dimulai dengan takbir dan disudahi dengan salam. Dinamakan Shalat dengan demikian (lafadh Shalat) karena di dalam terdapat Shalat dalam pengertian bahasa. Shalat menurut bahasa adalah Doa.

Shalat yang difardhukan untuk setiap muslim sehari semalam lima waktu. Kewajiban ini diketahui secara dharuri (mudah/setiap orang) dalam agama Islam, karena itu orang yang mengingkarinya dihukumkan dengan kafir. Shalat lima waktu ini tidak berhimpun bagi selain Nabi kita Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam. Shalat difardhukan pada malam Isra' dua puluh rajab, dua puluh tahun tiga bulan setelah pengangkatan Rasulullah. Shalat subuh pada hari Isra' tidak diwajibkan karena belum ada ilmu dengan tata cara pelaksanaannya.

( إنما تجب المكتوبة ) أي الصلوات الخمس ( على ) كل ( مسلم مكلف ) أي بالغ عاقل ذكر أو غيره ( طاهر ) فلا تجب على كافر أصلي وصبي ومجنون ومغمى عليه وسكران بلا تعد لعدم تكليفهم ولا على حائض ونفساء لعدم صحتها منهما ولا قضاء عليهما بل تجب على مرتد ومتعد بسكر

Sesungguhnya diwajibkan al-maktubah artinya Shalat lima waktu terhadap setiap muslim yang mukallaf, artinya baligh (telah sampai umur) berakal laki-laki atau lainnya, lagi yang suci. Maka tidak diwajibkan shalat terhadap kafir asli, anak-anak, orang gila, orang pitam dan orang mabuk tanpa unsur kesengajaan disebabkan ketiadaan ditaklif (dituju hukum) kepada mereka. Juga tiada diwajibkan shalat terhadap perempuan yang berhaidh dan bernifas karena tiada sah shalat keduanya dan tiada (diperintahkan) qadha terhadap keduanya. Namun diwajibkan qadha kepada murtad dan orang yang sengaja mabuk.

( ويقتل ) أي ( المسلم ) المكلف الطاهر حدا بضرب عنقه ( إن أخرجها ) أي المكتوبة عامدا ( عن وقت جمع ) لها إن كان كسلا مع اعتقاد وجوبها ( إن لم يتب ) بعد الاستتابة وعلى ندب الاستتابة لا يضمن من قتله قبل التوبة لكنه يأثم ويقتل كفرا إن تركها جاحدا وجوبها فلا يغسل ولا يصلى عليه
( ويبادر ) من مر ( بفائت ) وجوبا إن فات بلا عذر فيلزمه القضاء فورا قال شيخنا أحمد بن حجر رحمه الله تعالى والذي يظهر أنه يلزمه صرف جميع زمنه للقضاء ما عدا ما يحتاج لصرفه فيما لا بد منه وأنه يحرم عليه التطوع ويبادر به ندبا إن فات بعذر كنوم لم يتعد به ونسيان كذلك

Dan dibunuhkan sebagai “had” (atas nama had [ganjaran], artinya bukan sebagai kafir) Muslim yang mukallaf lagi yang suci dengan memotong lehernya, jika mengeluarkan shalat maktubah (fardhu) dari waktu jama’ bagi shalat terseut secara sengaja karena malas mengerjakan shalat dan beri’tiqad wajib shalat. Hal ini apabila ia belum bertaubat setelah diperintah untuk bertaubat. Berpijak atas pendapat sunat perintah taubat, seesorang yang membunuh orang yang meninggalkan shalat sebelum bertaubat tidak diberatkan untuk membayar diyat, tetapi seseorang tersebut berdosa. Jika seseorang meninggalkan shalat karena mengingkari kewajiban shalat maka orang tersebut dibunuh sebagai kafir, karena itu tidak dimandikan dan tidak dishalatkan.

Dan diwajibkan kepada orang yang telah disebutkan (Muslim yang mukallaf lagi yang suci) untuk mengqadhakan shalat yang tinggal. Jika meninggalkan shalat tanpa keuzuran (alasan yang diterima oleh agama) maka diwajibkan kepadanya untuk mengqadhakannya dengan segera. Syaikhuna Ahmad bin Hajar rahimahullah (Ibnu Hajar al-Haitami) berkata : “Secara dhahir bahwa wajib terhadap seseorang yang meninggalkan shalat tanpa uzur menggunakan seluruh waktunya selain waktu yang tidak boleh tidak untuk kebutuhannya untuk mengqadhakan shalatnya. Dan haram terhadapnya mengerjakan shalat sunat”.
Disunatkan menyegerakan qadha jika tertinggal shalatnya karena ada uzur seperti tidur yang tidak disengaja dan juga lupa.

Note : Tidur yang disengaja maksudnya tidur saat waktu shalat telah tiba atau hampir tiba dan ia yakin atau ragu tidak akan terbangun untuk melakukan shalat. Jika ia tidur bukan dalam waktu shalat dan tidak terbangun hingga lewat waktu shalat, maka dikatakan tidur yang tidak disengaja.


( ويسن ترتيبه ) أي الفائت فيقضي الصبح قبل الظهر وهكذا ( وتقديمه على حاضرة لا يخاف فوتها ) إن فات بعذر وإن خشي فوت جماعتها على المعتمد
وإذا فات بلا عذر فيجب تقديمه عليها أما إذا خاف فوت الحاضرة بأن يقع بعضها وإن قل خارج الوقت فيلزمه البدء بها ويجب تقديم ما فات بغير عذر على ما فات بعذر وإن فقد الترتيب لأنه سنة
والبدار واجب ويندب تأخير الرواتب عن الفوائت بعذر ويجب تأخيرها عن الفوائت بغير عذر
( تنبيه ) من مات وعليه صلاة فرض لم تقض ولم تفد عنه وفي قول أنها تفعل عنه أوصى بها أم لا حكاه العبادي عن الشافعي لخبر فيه وفعل به السبكي عن بعض أقاربه

Dan disunatkan mengqadha shalat yang tertinggal secara tertib, karena itu diqadhakan lebih dahulu shalat Subuh sebelum shalat Zhuhur dan seterusnya. Disunatkan juga mendahulukan shalat qadha (shalat diluar waktunya) atas shalat hadhir (shalat dalam waktunya) jika tidak ditakutkan habis waktu shalat hadhir, hal ini jika tertinggal shalat yang harus diqadha disebabkan uzur (alasan yang dibolehkan oleh agama) sekalipun karena mendahulukan qadha tidak sempat melaksanakan shalat hadhir secara berjamaah, berdasarkan pendapat yang mu’tamad (kuat).

Apabila shalat yang luput (tertinggal) bukan karena sebuah ke-uzuran maka wajib mendahulukan shalat qadha atas shalat hadhir. Adapun apabila ditakutkan habis waktu untuk shalat hadhir (jika didahulukan shalat qadha), seperti akan ada sebagian, sekalipun sedikit,  shalat hadhir yang dilakukan diluar waktunya maka wajib terhadap seseorang untuk memulai dengan shalat hadhir. Dan diwajibkan mendahulukan shalat yang luput dengan tanpa uzur atas shalat yang luput dengan adanya uzur, sekalipun tidak terjadi tertib karena mengqadha secara tertib hukumnya sunat.

Menyegerakan (qadha shalat) hukumnya wajib. Disunatkan mentakkhirkan shalat sunat rawatib (shalat sunat yang mengiringi shalat fardhu) dari pada shalat yang luput dengan uzur dan wajib mentakkhirkan shalat sunat rawatib dari pada shalat yang luput tanpa uzur.

(Penting) Apabila seseorang meninggal dunia padahal wajib atasnya shalat fardhu (karena tidak dikerjakan semasa hidupnya) maka tidak boleh diqadhakan (oleh orang lain) dan tidak boleh digantikan dengan fidyah. Menurut sebuah pendapat boleh dikerjakan shalatnya (oleh orang lain) diwasiatkan oleh mait (untuk mengqadhakannya) ataupun tidak. Pendapat ini (boleh dilakukan shalatnya oleh orang lain) diriwayat oleh al-‘Ubady dari pada Imam Syafi’i rahimahullah berdalilkan sebuah Hadits (riwayat Imam Bukhari. I’anatuth Thalibin). (Mengamalkan pendapat ini) Imam Subki pernah mengqadhakan shalat sebagian kerabatnya.


( ويؤمر ) ذو صبا ذكر أو انثى ( مميز ) بأن صار يأكل ويشرب ويستنجي وحده أي يجب على كل من أبويه وإن علا ثم الوصي
 وعلى مالك الرقيق أن يأمر ( بها ) أي الصلاة ولو قضاء وبجميع شروطها ( لسبع ) أي بعد سبع من السنين أي عند تمامها وإن ميز قبلها وينبغي مع صيغة الأمر التهديد

Dan diperintahkan untuk melakukan shalat walaupun shalat qadha terhadap anak kecil laki-laki atau perempuan yang telah mumaiyiz, yaitu anak-anak yang telah mampu makan, minum dan beristinja’ (bersuci dari kencing dan berak) dengan sendirinya. Artinya (perintah menyuruh anak yang sudah mumaiyiz untuk mengerjakan shalat sekalipun shalat qadha) diwajibkan terhadap kedua orang tuanya, selanjutnya (jika tidak ada kedua orang tuanya) diwajibkan terhadap kakeknya dan seterusnya (ke atas, ayah kakek, ayah ayah kakek dst) kemudian (jika tidak ada orang tuanya dan tidak ada kakeknya) diwajibkan terhadap washi (orang yang menerima wasiat untuk menjaga dan mendidik anak-anak) begitu juga diwajibkan terhadap pemilik hamba sahaya (memerintahkan budaknya). Dan wajib pula memerintahkan anak yang telah mumaiyiz untuk menyempurnakan semua syarat shalat. Perintah ini ditujukan kepada anak kecil yang mumaiyiz apanila ia telah berusia tujuh tahun, maksudnya telah genab usianya tujuh tahun, sekalipun ia telah mumaiyiz sebelum sampai pada usia tujuh tahun. Dan jika diperlukan (seperti ia tidak mau shalat), maka boleh menegaskan perintah ini (seperti memarahi atau membentak).


( ويضرب ) ضربا غير مبرح وجوبا ممن ذكر ( عليها ) أي على تركها ولو قضاء أو ترك شرطا من شروطها ( لعشر ) أي بعد استكمالها للحديث الصحيح مروا الصبي بالصلاة إذا بلغ سبع سنين وإذا بلغ عشر سنين فاضربوه عليها ( كصوم أطاقه ) فإنه يؤمر به لسبع ويضرب عليه لعشر كالصلاة وحكمة ذلك التمرين على العبادة ليتعودها فلا يتركها وبحث الأذرعي في قن صغير كافر نطق بالشهادتين أنه يؤمر ندبا بالصلاة والصوم يحث عليهما من غير ضرب ليألف الخير بعد بلوغه وإن أبى القياس ذلك انتهى

Dan wajib terhadap orang yang telah disebutkan (ayah, ibu, kakek dan seterusnya) memukul mumaiyiz yang telah sempurna umurnya sepuluh tahun (pukulan) yang tidak melukai karena meninggalkan shalat walaupun shalat qadha’ atau karena meninggalkan sebuah syarat dari syarat-syarat shalat. (Kewajiban memukul ini) berdasarkan Hadits Shahih “Perintahkan olehmu anak-anak mengerjakan shalat apabila telah sampai umurnya tujuh tahun. Dan apabila ia telah berusia sepeuluh tahun maka pukul olehmu anak tersebut karena meninggalkan shalat”. Seperti puasa yang ia sanggup kerjakan, maka anak-anak yang sanggup mengerjakan puasa diperintahkan (oleh orang tuanya) saat berusia tujuh tahun dan dipukul karena meninggalkan puasa saat telah berusia sepuluh tahun, sama juga seperti shalat.

Hikmah demikian (perintah shalat sejak dini) adalah untuk mendidik anak usia dini dalam beribadah suapay menjadi kebiasaannya maka ia tidak akan meninggalkannya (kemudian hari). Imam Azra’iy membahas tentang budak/hamba sahaya kafir yang mengucapkan dua kalimat syahadah bahwa disunatkan memerintahkan kepadanya shalat dan puasa dengan mengajaknya melakukannya shalat dan puasa tanpa memukul. Tujuannya agar ia terbiasa dengan kebaikan saat baligh nanti, sekalipun hukum ini bertentangan dengan maksud hukum dari perintah Rasulullah. Demikian Imam Azra’iy.


ويجب أيضا على من مر نهيه عن المحرمات وتعليمه الواجبات ونحوها من سائر الشرائع الظاهرة ولو سنة كسواك وأمره بذلك ولا ينتهي وجوب ما مر على من مر إلا ببلوغه رشيدا وأجرة تعليمه ذلك كالقرآن والآداب في ماله ثم على أبيه ثم على أمه

Dan wajib pula terhadap orang-orang yang telah disebutkan (ayah, ibu, kakek dan seterusnya), mencegah/melarang mumayyiz (anak-anak yang telah mampu makan, minum dan beristinja’ (bersuci dari kencing dan berak) dengan sendirinya) dari segala sesuatu yang diharamkan dalam agama. Dan wajib pula mengajarinya seluruh kewajiban (seperti shalat, puasa, zakat, haji dan juga hal yang berkaitan dengannya seperti rukun-rukun dan syarat-syarat) dan juga yang seumpama kewajiban, yaitu semua syari’at yang dhahir (diketahui oleh semua lapisan masyarakat Islam) walaupun syariat tersebut adalah sunat, seperti mengajarinya tentang bersugi/bersiwak (menggosok gigi) dan memerintahkannya dengan bersugi.

Kepada orang-orang yang telah disebutkan, kewajiban yang telah disebutkan ini tidak berakhir sehingga mumaiyiz tersebut sampai pada masa Rasyid (mampu menjaga agama dan harta dengan benar).
Beban biaya pendidikan anak-anak seperti belajar al-Quran dan Adab (Tasauf) diambil dari harta si anak, jika tidak ada maka dari harta bapaknya kemudian dari harta ibunya.


(تنبيه) ذكر السمعاني في زوجة صغيرة ذات أبوين أن وجوب ما مر عليهما فالزوج وقضيته وجوب ضربها وبه ولو في الكبيرة صرح جمال الإسلام البزري قال شيخنا وهو ظاهر إن لم يخش نشوزا وأطلق الزركشي الندب
(وأول واجب) حتى على الأمر بالصلاة كما قالوا (على الآباء) ثم على مر من (تعليمه) أي المميز (أن نبينا محمدا صلى الله عليه وسلم بعث بمكة) وولد بها (ودفن بالمدينة) ومات بها

(Tanbih) as-Sam’any menyebutkan tentang seorang istri yang masih anak-anak yang mempunyai kedua orang tuanya bahwa kewajiban yang telah disebutkan dipundakkan kepada kedua orang tuanya, [jika kedua orang tuanya tidak ada] maka kewajiban tersebut berpindah kepada suami. Kewajiban ini menghendaki kepada wajib (terhadap orang tua kemudian suami) memukuli istri yang masih kecil (jika tidak mematuhi, sama seperti memukul mumaiyyiz).

Jamalul Islam al-Bizry menjelaskan bahwa kewajiban memukul tersebut juga berlaku sekalipun pada istri yang dewasa. Berkata Syaikhuna (Ibn Hajar al-Haitamy) pendapan ini dhahir (jelas/kuat) apabila tidak ditakutkan akan terjadi nusyuz (penolakan ketaatan olehistri terhadap suami). Imam az-Zarkasyi mengatakan bahwa hukumnya sunat secara muthlaq (ditakutkan nusyuz atau tidak).

Kewajiban paling awal yang dipundakkan kepada kedua orang tua kemudian kepada orang yang telah disebutkan, sehingga lebih didahulukan dari pada perintah dengan shalat, sebagai mana telah dijelaskan oleh semua Ulama, adalah mengajari mumaiyiz bahwa sesungguhnya Nabi kita Saiyyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diangkat (sebagai Rasul) dan dilahirkan di Kota Suci Mekkah dan di makamkan dan wafat di Kota Suci Madinah.*

*Kemungkinan penyebab Mushannif (pengarang) memilih menyebutkan kewajiban pertama ini adalah bahwa orang yang mengingkari kedua hal ini akan menjadi kafir dan hal ini merupakan hal yang kadang sering dilupakan oleh masyarakat umum. Namun demikian, kewajiban pertama yang harus diajarkan kepada mumaiyiz bukan hanya ini saja melainkan I’tiqad lima puluh dan beberapa hal lain yang telah disepakati kewajibannya, seperti mengetahui Nasab Rasulullah dan lainnya.

Kewajiban Terhadap Istri dan Mumaiyiz

تنبيه) ذكر السمعاني في زوجة صغيرة ذات أبوين أن وجوب ما مر عليهما فالزوج وقضيته وجوب ضربها وبه ولو في الكبيرة صرح جمال الإسلام البزري قال شيخنا وهو ظاهر إن لم يخش نشوزا وأطلق الزركشي الندب
(وأول واجب) حتى على الأمر بالصلاة كما قالوا (على الآباء) ثم على مر من (تعليمه) أي المميز (أن نبينا محمدا صلى الله عليه وسلم بعث بمكة) وولد بها (ودفن بالمدينة) ومات بها  

(Tanbih) as-Sam’any menyebutkan tentang seorang istri yang masih anak-anak yang mempunyai kedua orang tuanya bahwa kewajiban yang telah disebutkan dipundakkan kepada kedua orang tuanya, [jika kedua orang tuanya tidak ada] maka kewajiban tersebut berpindah kepada suami. Kewajiban ini menghendaki kepada wajib (terhadap orang tua kemudian suami) memukuli istri yang masih kecil (jika tidak mematuhi, sama seperti memukul mumaiyyiz).

Jamalul Islam al-Bizry menjelaskan bahwa kewajiban memukul tersebut juga berlaku sekalipun pada istri yang dewasa. Berkata Syaikhuna (Ibn Hajar al-Haitamy) pendapan ini dhahir (jelas/kuat) apabila tidak ditakutkan akan terjadi nusyuz (penolakan ketaatan olehistri terhadap suami). Imam az-Zarkasyi mengatakan bahwa hukumnya sunat secara muthlaq (ditakutkan nusyuz atau tidak).

Kewajiban paling awal yang dipundakkan kepada kedua orang tua kemudian kepada orang yang telah disebutkan, sehingga lebih didahulukan dari pada perintah dengan shalat, sebagai mana telah dijelaskan oleh semua Ulama, adalah mengajari mumaiyiz bahwa sesungguhnya Nabi kita Saiyyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam diangkat (sebagai Rasul) dan dilahirkan di Kota Suci Mekkah dan di makamkan dan wafat di Kota Suci Madinah.*

*Kemungkinan penyebab Mushannif (pengarang) memilih menyebutkan kewajiban pertama ini adalah bahwa orang yang mengingkari kedua hal ini akan menjadi kafir dan hal ini merupakan hal yang kadang sering dilupakan oleh masyarakat umum. Namun demikian, kewajiban pertama yang harus diajarkan kepada mumaiyiz bukan hanya ini saja melainkan I’tiqad lima puluh dan beberapa hal lain yang telah disepakati kewajibannya, seperti mengetahui Nasab Rasulullah dan lainnya.

Wallahua’lam.
Fathul Mu’in, Juz. I, Hal. 25, Cet. Daar Ihya al-Kutub al-‘Arabiyah, Indonesia.

Kewajiban Amar Ma'ruf Nahi Munkar Kepada Anak.

ويجب أيضا على من مر نهيه عن المحرمات وتعليمه الواجبات ونحوها من سائر الشرائع الظاهرة ولو سنة كسواك وأمره بذلك
ولا ينتهي وجوب ما مر على من مر إلا ببلوغه رشيدا وأجرة تعليمه ذلك كالقرآن والآداب في ماله ثم على أبيه ثم على أمه

Dan wajib pula terhadap orang-orang yang telah disebutkan (ayah, ibu, kakek dan seterusnya), mencegah/melarang mumayyiz (anak-anak yang telah mampu makan, minum dan beristinja’ (bersuci dari kencing dan berak) dengan sendirinya) dari segala sesuatu yang diharamkan dalam agama. Dan wajib pula mengajarinya seluruh kewajiban (seperti shalat, puasa, zakat, haji dan juga hal yang berkaitan dengannya seperti rukun-rukun dan syarat-syarat) dan juga yang seumpama kewajiban, yaitu semua syari’at yang dhahir (diketahui oleh semua lapisan masyarakat Islam) walaupun syariat tersebut adalah sunat, seperti mengajarinya tentang bersugi/bersiwak (menggosok gigi) dan memerintahkannya dengan bersugi.

Kepada orang-orang yang telah disebutkan, kewajiban yang telah disebutkan ini tidak berakhir sehingga mumaiyiz tersebut sampai pada masa Rasyid (mampu menjaga agama dan harta dengan benar).
Beban biaya pendidikan anak-anak seperti belajar al-Quran dan Adab (Tasauf) diambil dari harta si anak, jika tidak ada maka dari harta bapaknya kemudian dari harta ibunya.

Wallahua’lam.
Fathul Mu’in, Juz. I, Hal. 25, Cet. Daar Ihya al-Kutub al-‘Arabiyah, Indonesia.

المذاهب الأربعة تقر بمشروعية التوسل


جواز التوسل بالنبي محمد صلى الله عليه وسلم

الدليل على جواز التوسل بالنبي عليه الصلاة والسلام ما رواه الحافظ الطبراني في معجميه الكبير والصغير عن الصحابي عثمان بن حُنيف وحكم بصحته: حديث الأعمى :أن رجلاً كان يختلف إلى عثمان بن عفان، فكان عثمان لا يلتفت إليه ولا ينظر في حاجته، فلقي عثمانَ بن حنيف، فشكى إليه ذلك، فقال: "ائت الميضأة فتوضأ ثم صلّ ركعتين ثم قل: اللّهم إني أسألك وأتوجّه إليك بنبيك محمد نبي الرحمة، يا محمد إني أتوجه بك إلى ربي في حاجتي لتقضى لي، ثم رُحْ حتى أروح معك". فانطلق الرجل ففعل ما قال ثم أتى باب عثمان، فجاء البواب فأخذه بيده فأدخله على عثمان بن عفان، فأجلسه على طنفسته فقال: "ما حاجتك؟"، فذكر له حاجته، فقضى له حاجته، وقال: "ما ذكرتُ حاجتَك حتى كانت هذه الساعة"، ثم خرج من عنده فلقي عثمانَ بن حُنيف فقال: "جزاك اللّه خيراً ما كان ينظر في حاجتي ولا يلتفت إليّ حتى كلمته فيّ"، فقال عثمان بن حُنيف: "واللّه ما كلمته ولكن شهدت رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلم وقد أتاه ضرير فشكا إليه ذهاب بصره فقال صلى اللّه عليه وسلم: "إن شئت صبرت وإن شئت دعوت لك، قال: يا رسول اللّه إنه شق علي ذهاب بصري وإنه ليس لي قائد، فقال له: ائت الميضأة فتوضأ وصلّ ركعتين ثم قل هؤلاء الكلمات" ففعل الرجل ما قال، فواللّه ما تفرقنا ولا طال بنا المجلس حتى دخل علينا الرجل وقد أبصر كأنه لم يكن به ضر قط". الطبراني يصحح حديث الأعمى :قال الطبراني: "والحديث صحيح"، ففيه دليل على أن الأعمى توسّل بالنبي صلى اللّه عليه وسلم في غير حضرته، بل ذهب إلى الميضأة فتوضأ وصلى ودعا باللفظ الذي علّمه رسول اللّه، ثم دخل على النبي صلى اللّه عليه وسلم والنبي لم يفارق مجلسه لقول راوي الحديث عثمان بن حُنيف: فواللّه ما تفرقنا ولا طال بنا المجلس حتى دخل علينا وقد أبصر . جواز قول يا محمدوأما الدليل على جواز قول يا محمد مع الاعتقاد أنه لا ضار ولا نافع على الحقيقة إلا اللّه فهو ما رواه الإمام البخاري في كتابه الأدب المفرد تحت باب: ما يقول الرجل إذا خدرت رجله، قال : " خدِرت رجل ابن عمر فقال له رجل: اذكر أحب الناس إليك، فقال: يا محمد ".
 
المذاهب الأربعة تقر بمشروعية التوسل
 وإليك أقوال العلماء من المذاهب الأربعة الدّالة على جواز التوسل بالنبي صلى الله عليه وسلم وأنه ليس شركاً: جواز التوسل بالنبي من أقوال العلماء:

المذهب الحنفي:
قال في الفتاوى الهندية (ج١ /۲٦٦) من كتاب المناسك: باب: خاتمة في زيارة قبر النبي صلى اللّه عليه وسلم، بعد أن ذكر كيفية وآداب زيارة قبر الرسول صلى اللّه عليه وسلم، ذكر الأدعية التي يقولها الزائر فقال: "ثم يقف (أي الزائر) عند رأسه صلى اللّه عليه وسلم كالأوّل ويقول: اللَّهمّ إنك قلت وقولك الحق: وَلَوْ أَنَّهُمْ إِذ ظَّلَمُوا أَنفُسَهُمْ جَاءُوكَ، الآية (النساء/٦٤)، وقد جئناك سامعين قولك طائعين أمرك، مستشفعين بنبيك إليك".

المذهب المالكي:
قال ابن الحاج المالكي المعروف بإنكاره للبدع في كتابه المدخل (ج١ /۲٥٩-۲٦٠) ما نصه: "فالتوسل به عليه الصلاة والسلام هو محل حطّ أحمال الأوزار وأثقال الذنوب والخطايا لأن بركة شفاعته عليه الصلاة والسلام وعظمها عند ربه لا يتعاظمها ذنب، إذ إنها أعظم من الجميع، فليستبشر من زاره ويلجأ إلى اللّه تعالى بشفاعة نبيه عليه الصلاة والسلام مَن لم يزره، اللهم لا تحرمنا شفاعته بحرمته عندك، آمين يا رب العالمين، ومن اعتقد خلاف هذا فهو المحروم".

المذهب الشافعي:
قال النووي في المجموع شرح المهذب (ج۸ /۲٧٤) من كتاب صفة الحج، باب زيارة قبر الرسول صلى اللّه عليه وسلم: "ثم يرجع إلى موقفه الأوّل قبالة وجه رسول اللّه صلى اللّه عليه وسلّم ويتوسل به في حق نفسه ويستشفع به إلى ربه".


المذهب الحنبلي:
صاحب المذهب أحمد بن حنبل أجاز التوسل كما نقل عنه الإمام المرداوي الحنبلي في الإنصاف (ج۲ /٤٥٦) من كتاب صلاة الاستسقاء: "ومنها (أي من الفوائد) يجوز التوسل بالرجل الصالح، على الصحيح من المذهب، وقيل يُستحب، قال الإمام أحمد للمروذي: يَتَوسل بالنبي صلى اللّه عليه وسلم في دعائه، وجزم به في المستوعب وغيره".


هذه أربعة نقول من المذاهب الأربعة فيها جواز التوسل بالنبي صلى اللّه عليه وسلم تُبيّن أن المذاهب الأربعة في مسألة التوسل يدٌ واحدة كمسألة زيارة قبر النبي صلى الله عليه وسلم، فاقتدِ بهؤلاء العلماء الذين قدوتهم رسول الله صلى الله عليه وسلم، ولا تُضيّع على نفسك ثواب التوسل بالحبيب المصطفى عليه أفضل الصلاة والسلام. وننصحك أن لا تلتفت إلى من يرمون الناس بالشرك لأنهم توسّلوا بالنبي، فهؤلاء كأنهم يرمون الصحابي عبد الله بن عمر والإمام أحمد بن حنبل والنووي وغيرهم بالشرك، فكُن مع من ذكرنا من العلماء فإنهم ورثة الأنبياء، ودعك ممن شذ

اللهم صل على سيدنا محمد وآله وصحبه الطاهرين وسلم

رد على شبه - التوسل بالأنبياء والصالحين أمر حسن

باب التوسل - إثبات أن التوسل بالأنبياء والأولياء جائز وأنه ليس شركًا


اعلم أنه لا دليل حقيقي يدل على عدم جواز التوسل بالأنبياء والأولياء في حال الغيبة أو بعد وفاتهم بدعوى أن ذلك عبادة لغير الله، لأنه ليس عبادةً لغير الله مجرد النداء لحي أو ميتٍ ولا مجرد التعظيم ولا مجرد الاستغاثة بغير الله، ولا مجرد قصد قبر ولي للتبرك، ولا مجرد طلب ما لم تجر به العادة بين الناس، ولا مجرد صيغة الاستعانة بغير الله تعالى، أي ليس ذلك شركًا لأنه لا ينطبق عليه تعريف العبادة عند اللغويين، لأن العبادة عندهم الطاعة مع الخضوع.




  • ما هي العبادة عند اللغويين؟
العبادة عند اللغويين الطاعة مع الخضوع. قال الأزهري الذي هو أحد كبار اللغويين في كتاب تهذيب اللغة نقلاً عن الزجاج الذي هو من أشهرهم: العبادة في لغة العرب الطاعة مع الخضوع، وقال مثله الفراء كما في لسان العرب لابن منظور. وقال بعضهم: أقصى غاية الخشوع والخضوع، وقال بعض: نهاية التذلل كما يفهم ذلك من كلام شارح القاموس مرتضى الزبيدي خاتمة اللغويين، وهذا الذي يستقيم لغةً وعرفًا.




  • ما الدليل على أن مجرد التذلل ليس عبادة لغير الله؟
مجرد التذلل ليس عبادةً لغير الله وإلا لكفر كل من يتذلل للملوك والعظماء. وقد ثبت أن معاذ بن جبلٍ لما قدم من الشام سجد لرسول الله، فقال الرسول: "ما هذا" فقال: يا رسول الله إني رأيت أهل الشام يسجدون لبطارقتهم وأساقفتهم وأنت أولى بذلك، فقال: "لا تفعل، لو كنت ءامر أحدًا أن يسجد لأحدٍ لأمرت المرأة أن تسجد لزوجها"، رواه ابن حبان وابن ماجه وغيرهما. ولم يقل له رسول الله صلى الله عليه وسلم كفرت، ولا قال له أشركت مع أن سجوده للنبي مظهر كبير من مظاهر التذلل.




  • ما هو التوسل؟
التوسل هو طلب حصول منفعةٍ أو اندفاع مضرةٍ من الله بذكر اسم نبي أو ولي إكرامًا للمتوسل به.




  • ما معنى قوله تعالى {وابتغوا إليه الوسيلة}؟
قال تعالى: {وابتغوا إليه الوسيلة} [سورة المائدة] أي كل شىءٍ يقربكم إليه اطلبوه يعني هذه الأسباب، اعملوا الأسباب فنحقق لكم المسببات، نحقق لكم مطالبكم بهذه الأسباب، وهو قادر على تحقيقها بدون هذه المسببات.




  • لم نقول "اللهم إني أسألك بجاه رسول الله أو بحرمة رسول الله أن تقضي حاجتي وتفرج كربتي"؟
جعل الله سبحانه وتعالى من الأسباب المعينة لنا لتحقيق مطالب لنا التوسل بالأنبياء والأولياء في حال حياتهم وبعد مماتهم، فنحن نسأل الله بهم رجاء تحقيق مطالبنا، فنقول: اللهم إني أسألك بجاه رسول الله أو بحرمة رسول الله أن تقضي حاجتي وتفرج كربي، أو نقول: اللهم بجاه عبد القادر الجيلاني ونحو ذلك، فإن ذلك جائز وإنما حرم ذلك الوهابية فشذوا بذلك عن أهل السنة.


  • ما معنى قوله تعالى {إياك نعبد}؟
قال إمام اللغويين الذين ألفوا في لغة العرب الفراء: العبادة الطاعة مع الخضوع وبهذا فسروا قوله تعالى:{إياك نعبد} أي نطيعك الطاعة التي معها الخضوع، والخضوع معناه التذلل.


  • أذكر دليلاً على جواز التوسل؟
ومن الأدلة على جواز التوسل الحديث الذي رواه الطبراني وصححه والذي فيه أن الرسول صلى الله عليه وسلم علم الأعمى أن يتوسل به فذهب فتوسل به في حالة غيبته وعاد إلى مجلس النبي وقد أبصر، وكان مما علمه رسول الله أن يقول: "اللهم إني أسألك وأتوجه إليك بنبيك محمدٍ نبي الرحمة يا محمد إني أتوجه بك إلى ربي في حاجتي (ويسمي حاجته) لتقضى لي".


  • ما هو الحديث الذي يدل على جواز التوسل بغير الحي الحاضر؟
التوسل بالأنبياء والأولياء جائز في حال حضرتهم وفي حال غيبتهم، ومناداتهم جائزة في حال غيبتهم وفي حال حضرتهم كما دل على ذلك الأدلة الشرعية.


ومن الأدلة على جواز التوسل الحديث الذي رواه الطبراني وصححه والذي فيه أن الرسول صلى الله عليه وسلم علم الأعمى أن يتوسل به فذهب فتوسل به في حالة غيبته وعاد إلى مجلس النبي وقد أبصر، وكان مما علمه رسول الله أن يقول: "اللهم إني أسألك وأتوجه إليك بنبيك محمدٍ نبي الرحمة يا محمد إني أتوجه بك إلى ربي في حاجتي (ويسمي حاجته) لتقضى لي".


فبهذا الحديث بطل زعمهم أنه لا يجوز التوسل إلا بالحي الحاضر، لأن هذا الأعمى لم يكن حاضرًا في المجلس حين توسل برسول الله بدليل أن راوي الحديث عثمان بن حنيفٍ قال لما روى حديث الأعمى: "فوالله ما تفرقنا ولا طال بنا المجلس حتى دخل علينا الرجل وقد أبصر". فمن قوله: "حتى دخل علينا"، علمنا أن هذا الرجل لم يكن حاضرًا في المجلس حين توسل برسول الله.


  • ما الدليل على جواز التوسل برسول الله بعد وفاته؟
أما الدليل على جواز التوسل برسول الله بعد وفاته فيؤخذ أيضًا من حديث عثمان بن حنيفٍ الذي رواه الطبراني وصححه، والذي فيه أنه علم رجلاً هذا الدعاء الذي فيه توسل برسول الله لأنه كان له حاجة عند سيدنا عثمان بن عفان لما كان خليفةً وما كان يتيسر له الاجتماع به حتى قرأ هذا الدعاء، فتيسر أمره بسرعةٍ وقضى له سيدنا عثمان بن عفان حاجته.


  • ما الدليل على جواز زيارة قبور الأنبياء والأولياء وبطلان دعوى ابن تيمية أن هذه الزيارة شركية؟
هؤلاء الذين يكفرون الشخص لأنه قصد قبر الرسول أو غيره من الأولياء للتبرك فهم جهلوا معنى العبادة، وخالفوا ما عليه المسلمون، لأن المسلمين سلفًا وخلفًا لم يزالوا يزورون قبر النبي، وليس معنى الزيارة للتبرك أن الرسول يخلق لهم البركة بل المعنى أنهم يرجون أن يخلق الله لهم البركة بزيارتهم لقبره. والدليل على ذلك ما رواه البيهقي بإسنادٍ صحيح عن مالك الدار وكان خازن عمر قال: أصاب الناس قحط (أي وقعت مجاعة، تسعة أشهرٍ انقطع المطر عنهم) في زمان عمر (أي في خلافته) فجاء رجل (أي من الصحابة) إلى قبر النبي صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله استسق لأمتك فإنهم قد هلكوا فأتي الرجل في المنام (أي أري في المنام أن رسول الله يكلمه) فقيل له: أقرىء عمر السلام وأخبره أنهم يسقون، وقل له: عليك الكيس الكيس. فأتى الرجل عمر فأخبره، فبكى عمر وقال: يا رب ما ءالو إلا ما عجزت. وقد جاء في تفسير هذا الرجل أنه بلال بن الحارث المزني الصحابي. فهذا الصحابي قد قصد قبر الرسول للتبرك فلم ينكر عليه عمر ولا غيره فبطل دعوى ابن تيمية أن هذه الزيارة شركية.


  • ما معنى قول الصحابي:"يا رسول الله استسق لأمتك فأنهم قد هلكوا"؟
معناه اطلب من الله المطر لأمتك فإنهم قد هلكوا.


  • ما معنى ما جاء في الحديث:" : أقرىء عمر السلام وأخبره أنهم يسقون"؟
أي سلم لي عليه وأخبره أنهم سيأتيهم المطر، ثم سقاهم الله تعالى حتى سمي ذلك العام عام الفتق من شدة ما ظهر من الأعشاب وسمنت المواشي حتى تفتقت بالشحم.


  • ما معنى قول الرسول: "عليك الكيس الكيس"؟
أي عليك بالاجتهاد بالسعي في خدمة الأمة.


  • ما معنى قول عمر: "يا رب ما ءالو إلا ما عجزت"؟
أي لا أقصر إلا ما عجزت، أي سأفعل ما في وسعي لخدمة الأمة.


  • ما الرد على قول بعض الوهابية "إن مالك الدار مجهول"؟
قول بعض الوهابية إن مالك الدار مجهول يرده أن عمر لا يتخذ خازنًا إلا خازنًا ثقة.


  • ما الرد على بعض الوهابية في محاولتهم تضعيف حديث مالك الدار وكان خازن عمر؟
محاولتهم لتضعيف هذا الحديث بعدما صححه الحافظ ابن حجر لغو لا يلتفت إليه. ويقال لهذا المدعي: لا كلام لك بعد تصحيح أهل الحفظ أنت ليس لك في اصطلاح أهل الحديث حق. على أن التصحيح والتضعيف خاص بالحافظ وأنت تعرف نفسك أنك بعيد من هذه المرتبة بعد الأرض من السماء.


  • ما الرد على قول الوهابية "إن الاستغاثة بالرسول بعد وفاته شرك"؟
روى البيهقي بإسنادٍ صحيح عن مالك الدار وكان خازن عمر قال: أصاب الناس قحط في زمان عمر فجاء رجل إلى قبر النبي صلى الله عليه وسلم فقال: يا رسول الله استسق لأمتك فإنهم قد هلكوا فأتي الرجل في المنام فقيل له: أقرىء عمر السلام وأخبره أنهم يسقون، وقل له: عليك الكيس الكيس. فأتى الرجل عمر فأخبره، فبكى عمر وقال: يا رب ما ءالو إلا ما عجزت. وقد جاء في تفسير هذا الرجل أنه بلال بن الحارث المزني الصحابي.


فما حصل من هذا الصحابي استغاثة وتوسل. وبهذا الأثر يبطل أيضًا قول الوهابية إن الاستغاثة بالرسول بعد وفاته شرك.


  • ماذا قال الحافظ تقي الدين السبكي عن التوسل والاستغاثة والتوجه والتجوه؟
قال الحافظ الفقيه اللغوي تقي الدين السبكي إن التوسل والاستغاثة والتوجه والتجوه بمعنى واحد ذكر ذلك في كتابه شفاء السقام الذي ألفه في الرد على ابن تيمية بإنكاره سنية السفر لزيارة قبر الرسول وتحريمه قصر الصلاة في ذلك السفر.


  • ما الدليل على استحباب معرفة قبور الصالحين لزيارتها والقيام بحقها؟
قال الحافظ ولي الدين العراقي في حديث أبي هريرة أن موسى قال: "رب أدنني من الأرض المقدسة رميةً بحجرٍ"، وأن النبي صلى الله عليه وسلم قال: "والله لو أني عنده لأريتكم قبره إلى جنب الطريق عند الكثيب الأحمر" :فيه استحباب معرفة قبور الصالحين لزيارتها والقيام بحقها. اهـ.


فيفهم من قول رسول الله عن قبر موسى عليه السلام "والله لو أني عنده لأريتكم قبره إلى جنب الطريق عند الكثيب الأحمر" والذي هو قرب أريحا الإشارة إلى أن زيارة قبور الأنبياء والصالحين للتبرك بهم مطلوبة وعلى هذا كان الأكابر وعلى ذلك نصوا.


  • ماذا يستحب أن يقال عند زيارة قبر رسول الله صلى الله عليه وسلم؟
وقد ذكر الإمام أبو الوفاء بن عقيلٍ الحنبلي الذي هو من أعمدة المذهب الحنبلي أنه مما يستحب قوله عند زيارة قبر رسول الله صلى الله عليه وسلم: "اللهم إنك قلت في كتابك لنبيك صلى الله عليه وسلم: {ولو أنهم إذ ظلموا أنفسهم جاءوك فاستغفروا الله واستغفر لهم الرسول لوجدوا الله توابًا رحيمًا} [سورة النساء]، وإني قد أتيت نبيك تائبًا مستغفرًا فأسألك أن توجب لي المغفرة كما أوجبتها لمن أتاه في حياته، اللهم إني أتوجه إليك بنبيك صلى الله عليه وسلم نبي الرحمة، يا رسول الله إني أتوجه بك إلى ربي ليغفر لي ذنوبي"، فبعد هذا كيف يقول بعضهم إن زيارة قبر النبي للتبرك به والتوسل به زيارة شركية، فما أبعد هؤلاء عن الحق.


  • ماذا قال الحافظ سراج الدين بن الملقن عن قبر معروف الكرخي؟
إن أحد حفاظ الحديث واسمه الحافظ سراج الدين بن الملقن هذا توفي بعد ابن تيمية بنحو ستين سنةً وهو من الفقهاء الشافعيين ذكر عن نفسه في كتابه طبقات الأولياء وهو كتاب يذكر فيه تراجم أولياء من السلف والخلف فقال: "ذهبت إلى قبر معروفٍ الكرخي وقفت ودعوت الله عدة مراتٍ، فالأمر الذي كان يصعب علي ينقضي لما أدعو الله هناك عند قبره"، هذا معروف الكرخي من الأولياء البارزين المشهورين في بغداد، معروف عند العامة والخاصة، يقصدون قبره للتبرك.


  • ماذا جاء عن الحسن بن إبراهيم الخلال في أمر التوسل والزيارة؟
ذكر الحافظ الخطيب البغدادي في تاريخ بغداد عن الحسن بن إبراهيم الخلال أنه قال: "ما همني أمر فقصدت قبر موسى بن جعفرٍ فتوسلت به إلا سهل الله تعالى لي ما أحب" اهـ.


  • ماذا قال إبراهيم الحربي عن قبر معروف الكرخي؟
ذكر الحافظ الخطيب البغدادي في تاريخ بغداد عن بعض أكابر السلف ممن كان في زمن الإمام أحمد بن حنبلٍ واسمه إبراهيم الحربي أبو إسحق وكان حافظًا فقيهًا مجتهدًا يشبه بأحمد بن حنبلٍ، وكان الإمام أحمد يرسل ابنه ليتعلم عنده الحديث أنه قال: "قبر معروفٍ الترياق المجرب"، والترياق هو دواء مركب من أجزاء وهو معروف عند الأطباء القدامى من كثرة منافعه، وهو عندهم أنواع، شبه الحربي قبر معروفٍ بالترياق في كثرة الانتفاع فكأن الحربي قال: أيها الناس اقصدوا قبر معروفٍ تبركًا به من كثرة منافعه.


  • ماذا قال عبيد الله بن عبد الرحمن بن محمد الأزهري عن قبر معروف الكرخي؟
ذكر الحافظ الخطيب البغدادي في تاريخ بغداد عن عبيد الله بن عبد الرحمن بن محمد الزهري أنه قال: سمعت أبي يقول: "قبر معروفٍ الكرخي مجرب لقضاء الحوائج، ويقال: إنه من قرأ عنده مائة مرةٍ: {قل هو الله أحد} (سورة الإخلاص/1) وسأل الله تعالى ما يريد قضى الله له حاجته".


  • ماذا قال أبو عبد الله المحاملي عن قبر معروف الكرخي؟
ذكر الحافظ الخطيب البغدادي في تاريخ بغداد عن أبي عبد الله المحاملي أنه قال: "أعرف قبر معروفٍ الكرخي منذ سبعين سنةً، ما قصده مهموم إلا فرج الله همه".


  • ماذا يروى عن الشافعي أنه كان يقول عن أبي حنيفة وقبره؟
وروي عن الشافعي أنه كان يقول: "إني لأتبرك بأبي حنيفة وأجيء إلى قبره في كل يومٍ ـ يعني زائرًا ـ فإذا عرضت لي حاجة صليت ركعتين وجئت إلى قبره وسألت الله تعالى الحاجة عنده فما تبعد عني حتى تقضى".


  • ماذا قال الحافظ الجزري عن قبور الصالحين؟
وقد ذكر الحافظ الجزري وهو شيخ القراء وكان من حفاظ الحديث في كتابٍ له يسمى الحصن الحصين وكذلك ذكر في مختصره قال: "من مواضع إجابة الدعاء قبور الصالحين" ا.هـ، وهذا الحافظ جاء بعد ابن تيمية بنحو مائة سنةٍ، ولم ينكر عليه العلماء إلا أن يكون بعض الشاذين الذين لحقوا نفاة التوسل من أتباع ابن تيمية.


  • أذكر قول الإمام مالك للخليفة المنصور لما حج فزار قبر النبي صلى الله عليه وسلم؟
ونختم هذا المقال بقول الإمام مالكٍ للخليفة المنصور لما حج فزار قبر النبي صلى الله عليه وسلم وسأل مالكًا قائلاً: "يا أبا عبد الله أستقبل القبلة وأدعو أم أستقبل رسول الله صلى الله عليه وسلم؟ قال: ولم تصرف وجهك عنه وهو وسيلتك ووسيلة أبيك ءادم عليه السلام إلى الله تعالى؟ بل استقبله واستشفع به فيشفعه الله" ذكره القاضي عياض في كتاب الشفا.


  • ما دليل أن إثم تكفير الوهابية للمسلمين لمجرد قصد قبور الأنبياء والصالحين وهم يعتقدون أن الأنبياء والأولياء أسباب فقط يكون في صحائف ابن تيمية لأنه أول من سن هذا؟
كيف تجرأ ابن تيمية على تحريم ذلك وتكفير من يفعل ذلك والحكم عليه بالشرك، ثم كيف تجرأ على دعوى أنه متفق عليه بين العلماء، ولو قال هذا ما أراه وأعتقده لكان ذلك إبداء رأيه الخاص لكنه أوهم أن هذا الذي يراه متفق عليه عند علماء الإسلام تلبيسًا على الناس وهو يعلم أن الأمر ليس كذلك، فما أعظم ما ترتب من كلام ابن تيمية هذا من تكفير أتباعه الوهابية للمسلمين لمجرد قصد قبور الأنبياء والصالحين وهم يعتقدون أن الأنبياء والأولياء أسباب فقط لا يخلقون منفعةً ولا مضرةً، فكل إثم تكفير هؤلاء المسلمين يكون في صحائف ابن تيمية لأنه أول من سن هذا، فقد قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "ومن سن في الإسلام سنةً سيئةً فعليه وزرها ووزر من عمل بها من بعده لا ينقص من أوزارهم شىء" وهو حديث مشهور رواه مسلم وغيره.


  • ما الدليل على أن الاستعاذة بغير الله ليست شركاً؟
أخرج أحمد في المسند بإسنادٍ حسنٍ كما قال الحافظ ابن حجرٍ أن الحارث بن حسانٍ البكري، قال لرسول الله صلى الله عليه وسلم: أعوذ بالله ورسوله أن أكون كوافد عادٍ، الحديث بطوله دليل يبطل قول الوهابية: الاستعاذة بغير الله شرك.


  • أذكر دليلا من الحديث على جواز الاستغاثة بغير الله.
عن ابن عباس أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: "إن لله ملائكةً في الأرض سوى الحفظة يكتبون ما يسقط من ورق الشجر فإذا أصاب أحدكم عرجة بأرضٍ فلاةٍ فليناد أعينوا عباد الله"، رواه الطبراني، وقال الحافظ الهيثمي: رجاله ثقات.


هذا الحديث فيه دلالة واضحة على جواز الاستغاثة بغير الله لأن فيه أن النبي صلى الله عليه وسلم علمنا أن نقول إذا أصاب أحدنا مشكلة في فلاةٍ من الأرض أي بريةٍ "يا عباد الله أعينوا" فإن هذا ينفعه. وهذا الحديث حسنه الحافظ ابن حجر، ونص الحديث كما أخرجه الحافظ ابن حجرٍ في الأمالي عن ابن عباسٍ رضي الله عنهما أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: "إن لله ملائكةً سوى الحفظة سياحين في الفلاة يكتبون ما يسقط من ورق الشجر فإذا أصاب أحدكم عرجة في فلاةٍ فليناد يا عباد الله أعينوا"، الله تعالى يسمع هؤلاء الملائكة الذين وكلوا بأن يكتبوا ما يسقط من ورق الشجر في البرية نداء هذا الشخص لو كان على مسافةٍ بعيدةٍ منهم. الملك الحي الحاضر إذا استغيث به: يا ملكنا ظلمني فلان أنقذني، يا ملكنا أصابني مجاعة فأنقذني، هذا الملك لا يغيث إلا بإذن الله، كذلك هؤلاء الملائكة لا يغيثون إلا بإذن الله، كذلك الأولياء والأنبياء إذا إنسان استغاث بهم بعد وفاتهم يغيثونه بإذن الله، فإذًا هؤلاء سبب، وكلا الأمرين جائز.


  • يقول ابن تيمية " قول أغثني يا رسول الله شرك إن كان في غيابه أو بعد وفاته". فما الرد على ابن تيمية والوهابية القائلين "لم تستغيث بغير الله، الله لا يحتاج إلى واسطة"؟
أما ابن تيمية فيقول: قول أغثني يا رسول الله شرك إن كان في غيابه أو بعد وفاته، عنده لا يجوز التوسل إلا بالحي الحاضر، يقول ابن تيمية والوهابية لم تستغيث بغير الله تعالى، الله تعالى لا يحتاج إلى واسطةٍ، فيقال في الرد عليهم: كذلك الملك الله تعالى لا يحتاج إليه ليغيثك وكذلك الملائكة الله لا يحتاج إليهم ليغيثوك، فما أبعد ابن تيمية وأتباعه عن الحق حيث إنهم وضعوا شروطًا لصحة الاستغاثة والاستعانة بغير الله ليست في كتاب الله ولا في سنة رسول الله، وكل شرطٍ ليس في كتاب الله فهو باطل وإن كان مائة شرطٍ. هذا والعجب من ابن تيمية ثبت عنه أمران متناقضان وهو أن القول المشهور عنه المذكور في أكثر كتبه تحريم الاستغاثة بغير الحي الحاضر، وصرح في كتابه الكلم الطيب باستحسان أن يقول من أصابه خدر في رجله "يا محمد"، وكتابه هذا الكلم الطيب ثابت أنه من تأليفه فما أثبته في هذا الكتاب هو موافق لعمل المسلمين السلف والخلف، وأما مشبهة العصر الوهابية الذين هم أتباع ابن تيمية مجمعون على أن قول يا محمد شرك وكفر.


  • ما الدليل على أن الميت ينفع بعد موته؟
قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: "حياتي خير لكم ومماتي خير لكم تحدثون ويحدث لكم، ووفاتي خير لكم تعرض علي أعمالكم فما رأيت من خيرٍ حمدت الله عليه وما رأيت من شر استغفرت لكم"، رواه البزار ورجاله رجال الصحيح.


هذا الحديث يدل على أن النبي ينفع بعد موته خلافًا للوهابية القائلين بأنه لا ينفع أحد بعد موته، فإنه عليه الصلاة والسلام لما قال: "ومماتي خير لكم" أفهمنا أنه ينفعنا بعد موته أيضًا بإذن الله عز وجل، كما نفعنا موسى عليه السلام ليلة المعراج لما سأل النبي عليه الصلاة والسلام: ماذا فرض الله على أمتك؟، فقال له: "خمسين صلاةً"، قال: ارجع وسل التخفيف فإني جربت بني إسرائيل فرض عليهم صلاتان فلم يقوموا بهما، فرجع فطلب التخفيف مرةً بعد مرةٍ وفي كل مرةٍ كان موسى عليه السلام يقول له: ارجع فسل التخفيف، إلى أن صاروا خمس صلواتٍ بأجر خمسين، فهل يشك عاقل بنفع موسى عليه السلام لهذه الأمة هذا النفع العظيم، وقد كان موسى توفي قبل ليلة المعراج بأكثر من ألف سنةٍ، فهذا عمل بعد الموت نفع به أمة محمدٍ صلى الله عليه وسلم.


وأما قوله عليه الصلاة والسلام: "تحدثون ويحدث لكم" فمعناه يحصل منكم أمور ثم يأتي الحكم بطريق الوحي من رسول الله.


ثم يؤكد النبي عليه الصلاة والسلام نفعه لأمته بعد وفاته بقوله: "ووفاتي خير لكم تعرض علي أعمالكم فما رأيت من خيرٍ حمدت الله عليه وما رأيت من شر استغفرت لكم".


  • ما الدليل على بطلان قول ابن تيمية: لا يجوز التوسل إلا بالحي الحاضر؟
وأخرج الطبراني في معجميه الكبير والصغير عن عثمان بن حنيفٍ أن رجلاً كان يختلف ـ أي يتردد ـ إلى عثمان بن عفان، فكان عثمان لا يلتفت إليه ولا ينظر في حاجته، فلقي عثمان بن حنيفٍ فشكى إليه ذلك، فقال: ائت الميضأة فتوضأ ثم صل ركعتين ثم قل: اللهم إني أسألك وأتوجه إليك بنبينا محمدٍ نبي الرحمة، يا محمد إني أتوجه بك إلى ربي في حاجتي لتقضى لي، ثم رح حتى أروح معك. فانطلق الرجل ففعل ما قال، ثم أتى باب عثمان فجاء البواب فأخذ بيده فأدخله على عثمان بن عفان فأجلسه على طنفسته ـ أي سجادته ـ فقال: ما حاجتك؟ فذكر له حاجته، فقضى له حاجته وقال: ما ذكرت حاجتك حتى كانت هذه الساعة، ثم خرج من عنده فلقي عثمان بن حنيفٍ فقال: جزاك الله خيرًا، ما كان ينظر في حاجتي ولا يلتفت إلي حتى كلمته في، فقال عثمان بن حنيفٍ: والله ما كلمته ولكن شهدت رسول الله صلى الله عليه وسلم وقد أتاه ضرير فشكى إليه ذهاب بصره، فقال: إن شئت صبرت وإن شئت دعوت لك، قال: يا رسول الله إنه شق علي ذهاب بصري وإنه ليس لي قائد فقال له: ائت الميضأة فتوضأ وصل ركعتين ثم قل هؤلاء الكلمات، ففعل الرجل ما قال، فوالله ما تفرقنا ولا طال بنا المجلس حتى دخل علينا الرجل وقد أبصر كأنه لم يكن به ضر قط قال الطبراني في "معجمه": والحديث صحيح، والطبراني من عادته أنه لا يصحح حديثًا مع اتساع كتابه المعجم الكبير، ما قال عن حديثٍ أورده ولو كان صحيحًا: الحديث صحيح، إلا عن هذا الحديث، وكذلك أخرجه في الصغير وصححه.


ففيه دليل أن الأعمى توسل بالنبي في غير حضرته بدليل قول عثمان بن حنيفٍ: "حتى دخل علينا الرجل"، وفيه أن التوسل بالنبي جائز في حالة حياته وبعد مماته فبطل قول ابن تيمية: لا يجوز التوسل إلا بالحي الحاضر، وكل شرطٍ ليس في كتاب الله فهو باطل وإن كان مائة شرطٍ.


هذا الحديث فيه دلالة واضحة على جواز التوسل بالنبي في حياته وبعد مماته في حضرته أو في غير حضرته.


  • ما الدليل على أن قول ابن تيمية "ليس التوسل الوارد في حديث الأعمى توسلاً بذات النبي بل بدعائه" مخالف للأصول؟
وأما قول ابن تيمية ليس التوسل الوارد في الحديث توسلاً بذات النبي بل بدعائه فهو دعوى باطلة، لأن التوسل نوع من أنواع التبرك، الرسول ذاته مباركة وءاثاره أي شعره وقلامة ظفره والماء الذي توضأ به ونخامته وريقه مبارك، لأن الصحابة كانوا يتبركون بذلك كما ورد في الصحيح فكأن قول ابن تيمية هذا ينادي بأن الصحابة ما كانوا يعرفون الحقيقة بل كانوا جاهلين وما قاله مخالف للأصول، فإن علماء الأصول لا يسوغون التأويل إلا لدليلٍ عقلي قاطعٍ أو سمعي ثابتٍ، وكلام ابن تيمية معناه أنه يجب تقدير محذوفٍ فالحديث عنده يقدر فيه محذوف فيكون التقدير على موجب دعواه اللهم إني أسألك وأتوجه إليك بدعاء نبينا وكذلك يا محمد إني أتوجه بك إلى ربي يلزم منه التقدير إني أتوجه بدعائك إلى ربي، والأصل في النصوص عدم التقدير والتقدير لا يصار إليه إلا لدليلٍ وهذا المعروف عند علماء الأصول فابن تيمية حبب إليه الشذوذ وخرق الإجماع من شدة إعجابه بنفسه.


  • لم انحرف أبو حيان الأندلسي عن ابن تيمية بعد أن كان يحبه وقد امتدحه؟
ابن تيمية حبب إليه الشذوذ وخرق الإجماع من شدة إعجابه بنفسه، ومن فرط إعجابه بنفسه أنه ذكرت مسئلة نحوية عنده فقيل له هكذا قال سيبويه فقال سيبويه يكذب، ومن ابن تيمية في النحو حتى يكذب إمام النحو لأنه خالف رأيه، وهذا خفيف بالنسبة لتخطئة علي بن أبي طالبٍ في سبع عشرة مسئلةً، فلهذا انحرف عنه أبو حيان النحوي بعد أن كان يحبه وقد امتدحه بقصيدةٍ ثم لما رأى منه تكذيب سيبويه ورأى كتابه الذي سماه كتاب العرش الذي ذكر فيه أن الله قاعد على الكرسي وأنه أخلى موضعًا للرسول ليقعده فيه زادت كراهيته له فصار يلعنه حتى مات، ذكر ذلك الحافظ محمد مرتضى الزبيدي، وأبو حيان إمام في القراءات والنحو والتفسير.


  • ما الدليل على أن ترك التوسل بالنبي بعد موته ليس فيه دلالة على منع التوسل بغير الحي الحاضر؟
وأما توسل عمر بالعباس بعد موت النبي صلى الله عليه وسلم فليس لأن الرسول قد مات، بل كان لأجل رعاية حق قرابته من النبي صلى الله عليه وسلم، بدليل قول العباس حين قدمه عمر: "اللهم إن القوم توجهوا بي إليك لمكاني من نبيك"، فتبين بطلان رأي ابن تيمية ومن تبعه من منكري التوسل. روى هذا الأثر الزبير بن بكار كما قال الحافظ ابن حجر، ويستأنس له أيضًا بما رواه الحاكم في المستدرك أن عمر رضي الله عنه خطب الناس فقال: "أيها الناس إن رسول الله صلى الله عليه وسلم كان يرى للعباس ما يرى الولد لوالده، يعظمه ويفخمه ويبر قسمه، فاقتدوا أيها الناس برسول الله صلى الله عليه وسلم في عمه العباس واتخذوه وسيلةً إلى الله فيما نزل بكم"، فهذا يوضح سبب توسل عمر بالعباس.


يفهم من هذا أن توسل عمر بالعباس كان لرعاية حق قرابته من رسول الله صلى الله عليه وسلم فترك توسل عمر بالنبي في ذلك الموضع ليس فيه دلالة على منع التوسل بغير الحي الحاضر، فقد ترك النبي صلى الله عليه وسلم كثيرًا من المباحات فهل دل تركه لها على حرمتها؟ وقد ذكر العلماء في كتب الأصول أن ترك الشىء لا يدل على منعه. وقد أراد سيدنا عمر بفعله ذلك أن يبين جواز التوسل بغير النبي صلى الله عليه وسلم من أهل الصلاح ممن ترجى بركته، ولذا قال الحافظ ابن حجرٍ في فتح الباري عقب هذه القصة ما نصه: "يستفاد من قصة العباس استحباب الاستشفاع بأهل الخير والصلاح وأهل بيت النبوة".اهـ.


  • حديث :"إذا سألت فاسأل الله وإذا استعنت فاستعن بالله" ليس فيه دليل على منع التوسل بالأنبياء والأولياء. اشرح ذلك.
أما حديث ابن عباسٍ الذي رواه الترمذي أن النبي صلى الله عليه وسلم قال له: "إذا سألت فاسأل الله وإذا استعنت فاستعن بالله" فليس فيه دليل أيضًا على منع التوسل بالأنبياء والأولياء لأن الحديث معناه أن الأولى بأن يسأل ويستعان به الله تعالى، وليس معناه لا تسأل غير الله ولا تستعن بغير الله. نظير ذلك قوله صلى الله عليه وسلم: "لا تصاحب إلا مؤمنًا ولا يأكل طعامك إلا تقي"، فكما لا يفهم من هذا الحديث عدم جواز صحبة غير المؤمن وإطعام غير التقي، وإنما يفهم منه أن الأولى في الصحبة المؤمن وأن الأولى بالإطعام هو التقي، كذلك حديث ابن عباسٍ لا يفهم منه إلا الأولوية وأما التحريم فليس في هذا الحديث.


  • ما الدليل على أن حديث ابن عباس لو ورد بلفظ النهي فليس كل أداة نهي للتحريم؟
المتوسل القائل "اللهم إني أسألك بنبيك أو بأبي بكرٍ أو بأويسٍ القرني أو نحو ذلك سأل الله لم يسأل غيره فأين الحديث وأين دعواهم، ثم إن الحديث ليس فيه أداة نهي لم يقل الرسول لابن عباسٍ لا تسأل غير الله ولا تستعن بغير الله، ولو ورد بلفظ النهي فليس كل أداة نهي للتحريم كحديث الترمذي وابن حبان: "لا تصاحب إلا مؤمنًا ولا يأكل طعامك إلا تقي"، فهذا الحديث مع وجود أداة النهي فيه ليس دليلاً على تحريم أن يطعم الرجل غير تقي، وإنما المعنى أن الأولى أن تطعم طعامك التقي. فكيف تجرأت الوهابية على الاستدلال بهذا الحديث لمنع التوسل بالأنبياء والأولياء، ما أجرأهم على التحريم والتكفير بغير سببٍ، ومن عرف حقيقتهم لا يجعل لكلامهم وزنًا.


  • ما الدليل عل أن وضع الكف على الشبيكة ليس شركًا؟
ثبت عن أبي أيوب الأنصاري أنه جاء إلى قبر الرسول فوضع وجهه عليه للتبرك وهذا لا شك عندهم من أكبر الكفر والشرك، وحاشا لله أن يكون أبو أيوب أشرك بالله لذلك ولا يخطر هذا ببال مسلمٍ، فلم ينكر عليه أحد من الصحابة ولا أحد من أهل العلم من السلف بل ولا من الخلف، فإذا كان وضع الوجه على قبر الرسول للتبرك لا يعد شركًا فكيف وضع الكف على الشبيكة التي هي بين القبر وبين الزائر، فإنا لله وإنا إليه راجعون اللهم إليك المشتكى.


  • ما الدليل على أن التوسل يسمى استغاثةً؟
لا فرق بين التوسل والاستغاثة، فالتوسل يسمى استغاثةً كما جاء في حديث البخاري أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: "إن الشمس تدنو يوم القيامة حتى يبلغ العرق نصف الأذن فبينما هم كذلك استغاثوا بآدم ثم موسى ثم بمحمدٍ صلى الله عليه وسلم" الحديث في رواية عبد الله ابن عمر لحديث الشفاعة يوم القيامة، وفي رواية أنسٍ روي بلفظ الاستشفاع وكلتا الروايتين في الصحيح فدل ذلك على أن الاستشفاع والاستغاثة بمعنًى واحدٍ فسمى الرسول صلى الله عليه وسلم هذا الطلب من ءادم أن يشفع لهم إلى ربهم استغاثةً.


هذا الحديث فيه دليل على أن التوسل يأتي بمعنى الاستغاثة وفي بعض الروايات لهذا الحديث: "يا ءادم أنت أبو البشر اشفع لنا إلى ربنا" وفي هذا رد على من جعل التوسل بغير الله شركًا. الاستشفاع والتوسل والاستغاثة والتوجه والتجوه بمعنًى واحدٍ، وقد قال الحافظ تقي الدين السبكي في شفاء السقام: التوسل والتوجه والاستغاثة والاستعانة بمعنًى واحدٍ.


  • ما الدليل على أن الرسول صلى الله عليه وسلم سمى المطر غيثًا مغيثاً؟
الرسول سمى المطر مغيثًا، فقد روى أبو داود وغيره بالإسناد الصحيح أن الرسول قال: "اللهم اسقنا غيثًا مغيثًا مريعًا نافعًا غير ضار عاجلاً غير ءاجلٍ"، فالرسول سمى المطر مغيثًا لأنه ينقذ من الشدة بإذن الله، كذلك النبي والولي ينقذان من الشدة بإذن الله تعالى.


  • ما الدليل على جواز طلب ما لم تجر به العادة بين الناس؟
الدليل على جواز طلب ما لم تجر به العادة بين الناس فمن ذلك ما رواه مسلم من أن ربيعة بن كعبٍ الأسلمي الذي خدم رسول الله صلى الله عليه وسلم قال له رسول الله من باب حب المكافأة: "سلني" فطلب من رسول الله أن يكون رفيقه في الجنة، فقال له: أسألك مرافقتك في الجنة، فلم ينكر عليه رسول الله بل قال له من باب التواضع: "أو غير ذلك"، فقال الصحابي: هو ذاك، فقال له: "فأعني على نفسك بكثرة السجود"، وكذلك سيدنا موسى عليه السلام حين طلبت منه عجوز من بني إسرائيل أن تكون معه في الجنة لم ينكر عليها ذلك، روى ذلك عنه ابن حبان في صحيحه وغيره. فمن أين لابن تيمية وأتباعه أن يبنوا قاعدةً وهو قولهم "طلب ما لم تجر به العادة من غير الله شرك".


والله تعالى أعلم وأحكم