4. MUKHALAFATUHU LIL HAWADITSI

4. MUKHALAFATUHU LIL HAWADITSI

Sifat wajib pada zat Allah subhanahu wa ta’ala yang keempat adalah Mukhalafatuhu lil Hawadits. Mukhalafah artinya berbeda sedangkan Hawadits maksudnya adalah seluruh makhluk. Pengertian Mukhalafatuhu lil Hawadits adalah Allah subhanahu wa ta’ala berbeda (tiada menyerupai) dengan setiap makhluk, baik manusia, jin, malaikat maupun makhluk yang lain seperti benda mati dan makhluk hidup lainnya. Dengan sifat ini dapat difahami bahwa Allah ta’ala tidak sah (mustahil) bersifat dengan sifat-sifat makhluk, seperti berjalan dan duduk misalnya serta mustahil pula Allah mempunyai anggota seperti mulut, mata, telinga dan anggota lainnya. Karena itu, apa saja yang tergores dalam fikiran kita seperti panjang, lebar, gemuk, kurus maka yakinlah bahwa Allah adalah sebalik demikian. Maha Suci Allah dari segala sifat-sifat makhluk.
Note : Perlu diketahui bahwa, jika warid (datang/tertulis) di dalam al-Quran dan Hadits sebuah kalimat yang memberi pemahaman tasybih (penyerupaan/persamaan Allah dengan makhluk), seperti “يد الله فوق أيدهم” maka tidak boleh tidak mentakwilkannya dalam pengertian memanglingkan kalimat tasybih (kalimat yang mengandung penyerupaan Allah dengan makhluk pada dhahir) dari arti dan makna dhahirnya (arti bahasa). Pentakwilan ini disepakati oleh Ulama Salaf dan Khalaf, namun Ulama Salaf menggunakan metode Takwil Ijmaliy, yaitu : Memalingkan kalimat tasybih dari pada makna dhahir (arti bahasa) SERTA tidak menentukan makna yang dimaksud dari kalimat tasybih tersebut. Ulama Salaf menyerahkan maksud dari kalimat tasybih kepada Allah. Metode Takwil Ijmaliy lebih kita kenal dengan istilah “Tafwidh”. Menggunakan metode Tafwidh, maka Ulama Salaf mengatakan tentang “Yadullah” bahwa : “Bukanlah maksud dari “yadullah” bahwa bagi Allah terdapat anggota yang dimaklumkan (maksudnya, tangan) yang layak bagi-Nya DAN tidak ada yang mengetahui maksdu dari “yadullah” kecuali hanya Allah sendiri”. Jadi Ulama Salaf tidak menerima pemaknaan kalimat mutasyabihat dan tidak menjelaskan maksud dari kalimat tasybih, “yadullah” adalah “yadullah” bukan “tangan Allah”, “istawa ‘alal ‘arsy” adalah “istawa ‘alal ‘arsy” bukan “Allah bersemanyam di atas Arsy”.

Berbeda dengan metode Ulama Salaf, Ulama Khalaf menggunaka metode Takwil Tafshiliy, yaitu : Memalingkan kalimat mutasyabihat dari pada makna dhahir (arti bahasa) SERTA menentukan/menyatakan makna yang dimaksud dari kalimat tasybih. Metode Takwil Tafshiliy lebih kita kenal dengan istilah “Takwil”. Menggunakan metode Takwil, maka Ulama Khalaf mengatakan tentang “Yadullah” bahwa : “Bukanlah maksud dari “yadullah” bahwa bagi Allah terdapat anggota yang dimaklumkan (maksudnya, tangan) yang layak bagi-Nya AKAN TETAPI maksud “yadullah” adalah “kekuasaan Allah”.

Untuk mudah memahami persamaan dan perbedaan antara metode Salaf dan Khalaf, dapat dilihat sebelum kalimat yang kami tulis dengan huruf besar (caps lock) dan sesudahnya.

Dalil Allah wajib (pada akal) bersifat dengan Mukahlafatuhu lil Hawadits adalah, jikalau Allah menyerupai dengan Hawadits (makhluk) pada satu sisi saja maka pastilah Allah hadits (baharu/ada setelah tiada), jika Allah hadits maka tidak boleh tidak Allah akan membutuhkan kepada muhdits (pencipta), jika Allah membutuhkan kepada muhdits maka muhdits Allah membutuhkan kepada muhdits yang lain. Akhirnya terjadilah Duur atau Tasalsul. Duur dan Tasalsul adalah dua hal yang mustahil. Karena itu wajiblah (pada akal) Allah bersifat dengan Mukhalafatuhu lil Hawadits.

Dalil Naqli sifat Mukhalafatuhu lil Hawadits diantaranya adalah :
(ليس كمثله شئ وهو سميع البصير (الشورى : ١١

Artinya : Tidak ada yang menyerupai-Nya dan Dia-lah Allah yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat (QS : asy-Syuraa : 42 : 22)

bersambung :)

1 komentar:

  1. Koreksi, yang benar adalah QS Asy Syuura:11. Bukan Asy Syuura:22

    BalasHapus